Pemerintah Belum Sensitif pada Rakyat

Berpolitik adalah kebutuhan hidup danmenjadi sarana untuk menuju sebuah kepentingan, mengartikulasikan politik sederhanya adalah sebuah taktik (proses) mencapai sebuah tujuan, itu merupakan makna umum, akan tetapi saya mengikuti arti politik pada konsepsi masyarakat saat ini, yakni politik adalah President, DPR, Bupati, Partai, Kampanye dan segala sesuatu yang mengarah pada pemerintah, saya tidak mau ribet mengartikannya, akan tetapi lebih pada analogi dan pemikiran saya pribadi yang pebuh dengan keterbatasan ilmu dan kedangkalan berfikir, akan lebih adil dan bijak apabila pembaca membaca ini secara seksama dan mencoba masuk dalam sebuah etika yang terjadi pada alur pemerintahan yang berkuasa saat ini, pada artikel ini saya akan mengarah pada sensitifitas pemerintah sebagai dasarnya, yang nantinya akan mengarah pada politik sebagai sarana dan wahana sensitif tersebut.
Pemerintah Masakini
Sensitifisme adalah kepekaan manusia.
Perasaan pada hati seseorang bukan lagi hal yang aneh, karena secara lahiriah sudah di ciptakan dan menjadi kondrat, alat indera ini tidak terlihat akan tetapi dirasakan secara dahsyat karena berkaitan dengan nurani manusia, saya berpendapat sensitif adalah sesuatu yang menyentuh lubuk paling dalam hati manusia dengan rasa yang dirasakan dalam hati itu sendiri, beberapa hal yang mesti di ingat adalah sensitif merupakan makna reltif tergantung pada menempatkan perasaan tersebut, contohnya seseorang akan sensitif apabila di singgung dengan perbuatan, bahasa, sebelumnya saya pernah menulis artikel berikut Bid'ah adalah bahasa sensitif, berarti makna ini merupakan sebuah sandaran berfikir, bergelut, yang menjadi sebuah kebiasaan seseorang terhadap sesuatu yang disandarkan. Kepekaan juga adalah buah perasaan yang miris atau tidak setuju, kontras, konflik dan lainnya, inilah perasaan dalam manusia yang dibawa sejak lahir.


Berbicara sensitif dan pemerintah
Apabila seseorang sudah menjadi kebiasaan berfikir dan selalu mengonsumsi hal-hal yang menjadi kebiasaan maka itu akan menjadi karakter yang baku, sebab dalam dunia ini merupakan candu. Saya melihat saat ini sensitif pemerintah terhadap masayarakat kurang begitu mengena, mereka (pemerintah) sensitif dengan apa yang meraka kerjakan yang berkaitan dengan politik, contohnya perebutan kursi kekuasaan bahkan yang lebih ironisnya adalah merebutkan Proyek daerah yang esensinya adalah uang dan uang, itu semua berlaku pada saat ini, sedangkan melihat kemiskinan di masyarakat mereka kurang begitu sensitif. Berbagai bukti dari banyak kasus dilapangan seumpanya seorang bupati atau DPR tatkala di beritakan miring tentang dirinya maka akan merah atau merasa risih padahal pemberitaan tersebut obyektif, sedangkan tatkala melihat kemiskinan yang sangat diperlukan tindakan mereka para pejabat mereka mengulur waktu dan sebagainya.

Baca juga artikel berikut, Ketimpangan Sosial Di cirebon, Wali Kota dan Prestasinya Masyarakat dan Laparnya

0 komentar:

Post a Comment

Terima Kasih sudah berkunjung di blog Rojay Creative.. Silahkan Tinggalkan Komentar..