Terancamnya makna Spiritualitas di Era Digital/Internet

Digital dan dunia internet telah di depan mata, Konsumsi sehari-hari tanpa mengenal waktu bahkan usia menjadikan Internet semakin menjadi jadi. Seperti perkembangan teknologi perangkat keras (Hardware) dan lunak (Sofware) yang semakin membumi. Seperti pencarian ketenangan hidup. Salah satu cara untuk mencari ketenangan ini adalah dengan pemenuhan, hasrat spritual. Paradigma pencarian makna spritualitas sekarang telah mengalami revolusi Ibadah-Ibadah konvensional yang selama ini menjadi jalan satu-satunya untuk mencapai makna spritualitas, sudah mulai tergantikan dengan Ibadah-Ibadah  jenis baru. Ibadah-Ibadah  jenis baru ini biasa mengagungkan tekhnologi sebagai perangkat untuk mencapai "maqam yang diinginkan. Salah satu ritual yang sedang menjadi tren adalah dengan berselancar di dunia maya (cyber) demi mencari kepuasan spritual ini.

Spritualitas yang ditawarkan oleh media baru ini sebetulnya ibarat bayi yang baru lahir. Perkembangannya belum signifikan Khususnya di Indonesia. Di dunia cyber ini sebenarnya tidak ada ideoligi baru yang ditawarkan. Internet sebagai buah dari tekhnologi tidak pernah mewajibkan kita untuk menggunakannya, tapi ketergantungan kita terhadap tekhnologi sudah tidak tak terbantahkan Terpaan tekhnologi informasi yang terus-menerus akhirnya melahirkan ideologi baru, Ideologi yang lahir ini menganggap bahwa tekhnologi akan bisa menjawab segala permasalahan" yang muncul. Manusia sebagai pelaku dalam perkembangan tekhnologi ini tidak menyadari bahwa agama yang selama ini mereka anut telah menjadi sesuatu yang sangat konvensional.

 Terancamnya makna Spiritualitas di Era Digital/Internet

Ketergantungan terhadap tekhnologi, lebih-lebih tekhnologi komunikasi sudah mulai mengakar. Sekali lagi Internet telah menjadi ajang baru dalam pencarian ruhaniah manusia modern sekarang ini. Teknologi komunikasi memang banyak menjanjikan harapan, sekaligus juga menimbulkan frustasi. Lahirnya kelompok elit dalam tatanan masyarakat kita menjadi salah satu dampak dari tekhnologi komunikasi. Kelompok ini yang mengerti perkernbangan tekhnologi, mereka akan selalu berpikir menggunakan otak dengan meninggalkan nurani. 

Kelompok ini disebut Alfin Toffler sebagai ketompok kognitariat. "Information is Power" akan menjadi suatu hal yang selalu mereka agungkan, Tekhnologi komunikasi pun akan melahirkan berbagai nilai baru. Nilai-nilai ini bisa jadi perubahan paradigma yang selama ini ada dalam masyarakat. Salah satunya pandangan tentang dunia spritualitas. Kalau dulu segala kenikmatan spritual selalu didapatkan dalam bentukritual atau ritual, tapi sekarang inibisa jadi ritual-ritual tersebut telah tergantikan dengan ritual baru yang lebih modern. Kedua aspek tersebut akan melahirkan manusia modern. 

Manusia modern ini akan selalu mempertanyakan kembali nilai-nilai transendetal yang melingkupi mereka. Orang-orang modern macam ini akan selalu menghiasi dunianya dengan berbagai proses dari modernisasi. Banyak orang yang beranggapan bahwa modernitas adalah terbebasnya manusia dari pesona apa saja yang manis di dunia, Merekapun beranggapan bahwa tekhnologi bisa membebaskan diri dari tahayul dan segala ideologi. Karena tekhnologi bisa mengendalikan dunia. Tapi pembebasan yang mereka dapat, melainkan kendali yang tumbuh sebagai paradigma (Goenawan Muhammad: Tempo, 13 Mei 2001).

Dampak Pada Nilai Spiritualitas
Bahkan nilai-nilai spritualitas akan tergantikan dengan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Kecenderungan semacam ini akan membawa manusia pada apa yang disebutkan Marshall dan Danah Zohar dalam bukunya SQ: Spritual Intelegence The Ultimate Intelegence sebagai spritual alienation - keterasingan spritual. Semua tingkah yang akan muncul adalah peradaban tanpa bingkai sprituai. Pengidolaanpun akan mengalami reduksi. Simbo-simbol keberagaman akan tergantikan dengan simbol-simbol yang lebih fungsional dan masuk akal. 
Belum lagi tekhnologi yang melenakan manusia untuk menjadi manusra yang pragmatis dan hedonis. Orientasi nidup akan mengalami pergeseran dari fitrah sebagai manusia yang beragama. 

Agama tidak lagi menjadi tuntutan, tetapi telah menjadi semacam komoditas. Tuhan yang dianggap sebagai singgahan Hati, pemberi solusi ternyata yang paling banyak dicari dalam intenet adalan Kata "God." (Ahmad Nadjib Burhani: 2001). Persoalannya sekarang apakah bisa alternatif pencarian makna spritualitas dalam dunia cyber itu menggantikan ritual kita selama ini dengan permanen’? Kalau melihat dari ritual masyarakat yang hanya duduk di depan komputer  dan bermain Gadget kemudian mereka mendapatkan pencerahan, rasanya penceranannya pun hanya sebatas pada pencarian terbatas yang tidak mendalam atau Pencerahan luar. Mereka tidak akan merasakan kelezatan dalam pencarian Tuhannya. Karena Tuhannya akan selalu hadir jika dipanggil. 


Digitalisasi dan Internet merupakan Neo-colonisme
Secara historis memang sangat sulit untuk melacak kapan dan dimana awal mula kecenderungan ini berasal, Tapi menurut pemerhati media Idi Subandy Ibrahim semua ini tidak bisa dipisahkan dari hegemoni bangsa barat yang ingin menciptakan neocolonisme.  Dewasa ini usaha-usaha tersebut sudah sangat meresahkan negara-negara dunai 

Masyarakat mamaksa dan sayangnya kita tidak merasa dipaksa, untuk mengkonsumsi segala yang keluar dari negeri Barat. Dalam karya klasiknya One Dimen-sional Man (1968) Herbert Marcus mengungkapkan, "masyarakat yang menyadari jati diri mereka dalam komoditas, mereka menemukan hati nurani dalam mobil, perangkat tekhnologi tinggi, rumah bertingkat dan seterusnya" Jika kondisi demikian dibiarkan, kontrol sosial dan kontrol spritual akan diatur dalam kebutuhan-kebutuhan baru yang telah diproduksi oleh negara-negara Barat. Jika kepungan komoditas tersebut sudah melingkupi kehidupan manusia, maka disitulah terjadi kehilangan nilai kesederhanaan, kezuhu dan yang notabenenya lebih dekat kepada nilai-nilai spritual. 

Keadaan seperti itu yang diinginkan oleh masyarakat barat.Mereka menginginkan agar masyarakat miskin cinta. Walaupun kaya harta, mereka miskin ruhani.Cara mereka mengekspresikan keberagamaan mereka seperti mereka memilih barang-barang kebutuhan hidup. Dengan demikian telah menenggelamkan kesadaran manusia modern sekaligus kelembah alienasi, apatisme dan pragmatisme. Dari apa yang telah dikemukakan, kita sebenarnya bagian dari skenario bangsa Barat untuk memiskinkan ruhani kita lewat dunia cyber ini. Cybers  sebenarnya tidak bisa mengantar manusia untuk mendapatkan pencerahan ruhani. Manusia harus mengalami sendiri pengalaman ruhaninya bukan dari cyberc. Karena spritualitas itu tidak bisa dibicarakan tetapi bisa dirasakan,dipahami dan dialami oleh manusia.

Solusi Tepatnya adalah gunakan sebagai Alat Belaka.
Cara terbaik dalam menempatkan tekhnologi ini seharusnya hanya sebatas sebagai alat. Tidak lebih dari itu. Dalam wacana besarnya dapat dikaitkan dengan beberapa tokoh yang tidak setuju zaman ini disebut sebagai zaman modern. Ini zaman tekhnik saja. Manusianya tetap sama, tetapi hanya pekerjaannya lebih efisien dan efektif karena kemajuan itu. Spiritulitas yang betul-betul mengagungkan nilai-nilai transendental Ilahiah tidak akan diperoleh dari tekhnologi internet. Intenet telah memberikan referensi yang begitu komplit. Tapi itu semua belum cukup untuk bisa mencerahkan ruhani. Untuk menyampaikan informasi keagamaan secara luas, mungkin internet bisa berperan. Tapi untuk penghayatan agama, peningkatan spritualitas, internet tidak dapat diandalkan.Tekhnologi yang begitu fresh ini hanya akan memberikan kontribusi berupa fantasi realitas dengan cara yang hidup dan lebih menipu. Tasbihpun tergantikan dengan Hape

Pada akhirnya sense of reality akan hilang. Akan berbahaya jika keyakinan ini memberikan pemahaman menolak segala keteraturan dan mendorong untuk menciptakan keabadian manusia melalui penempatan pemikiran dalam internet. Akhir dari tulisan saya mengajak kepada para pembaca untuk tidak menutupi diri dari teknnologi. Bagaimanapun juga tekhnologi telah turut serta dalam perubahan yang terjadi di dunia ini.  Anggaplah pencarian makna spritual dengan menggunakan internet ini menjadi salah satu dari sekian banyak cara untuk mencapai Tuhan. Karena saya percaya Tuhan tidak akan melirik dari apakah kita menyembahnya atau tidak dengan simbol ucapan,tapi bagaimana usaha kita mencari apa yang disebut oleh Tuhan tentang dirinya ini sebagai mutiara. 

Jika kita memperlakukan internet sebagai satu-satunya cara untuk mencari Allah dengan meniggalkan ritual-ritual yang sering kita lakukan maka prilaku ini yang perlu kita khawatirkan. Mudah-mudahan kita bisa memanfaatkan tekhnologi ini menjadi alat untukbisa mendekatkan diri ke Allah Swt Mudah-mudahan. Amiin Yaa Robbal 'Alamiin. demikian artikel  Terancamnya makna Spiritualitas di Era Digital/Internet.

0 komentar:

Post a Comment

Terima Kasih sudah berkunjung di blog Rojay Creative.. Silahkan Tinggalkan Komentar..